Tidak bisa meninggalkan apa-apa, hanya bisa menorehkan pena. Ini adalah pena yang bisa bercerita bahwa tiap hari ada udara yg keluar masuk dan berganti tapi tak pernah disadari, bahwa tiap hari ada matahari dan bulan yang berganti tapi tak pernah dihayati, dan bahwa tiap hari ada berbagai kejadian kecil dan tak lucu lalu kita anggap angin lalu. Edi Sud-Rahmat Kartolo…Maksud Lo?!?!. Maksud aku ini hanya catatan harian yang biasa kutaruh di saku.
( Namanya…Berlin )
Mata bening ini masih tampak sayu tak beranjak
dalam kesendirian yang semakin memekat
dibuai hanyut heningan tak ber-asa
Hati ini bimbang
tenggelam usapan iblis membingungkan
seolah semua tiada kepastian
terkungkung kerasnya jiwa yang mengambang
hingga suatu saat makhluk surga itu hadir
harum semerbak menebarkan aroma na’im dan ma’wa
mengalir membasahi rongga rongga yang gersang
runtuhkan tembok kecongkakan dari hati yang membesi
dia bernama berlin
kehadirannya membumikan impian nan islami
mendekatkan jiwa pada cahaya fitrah
Hanya kepada
Allah diri kan berserah….
by pamukti
☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺
( Menyentuh
Berlin yang tak tersentuh )
Sekali lagi
dalam hidup yang fana ini
Jiwa yang kecil dan lemah kembali merintih
Dengan tangan tangan kecilnya dia mencoba menguatkan diri
Mengais serpihan keyakinan dan menyusunnya kembali
Takdirnya kini harus memilih lagi
Berlin bagaikan cahaya hati yang telah lama hilang
Kilaunya mengkristal di setiap sanubari
Laksana kilauan jamrud nan agung kehijauan
Tapi berlin tetaplah berlin
Dia tinggal di atas awan
Tak tersentuh walau seluruh dunia ingin menyentuh
Berlin adalah racun terhadap sesuatu yang belum ada haknya
Sekaligus tetesan air surga bagi jiwa yang memilikinya
Akankah diri ini akan menyingkirkan hijab keyakinan
Berusaha menggapainya yang diatas awan ?
Ah tidak..tidak…
Berlin adalah cahaya dunia
Dia akan menghampiriku meski aku bersembunyi dibawah naungan keyakinanku
Pasti!
Aku yakin itu
by pamukti