Apr
16
Filed Under (Puisi) by mukti on 16-04-2008

Berlin (01)

( Namanya…Berlin )

Mata bening ini masih tampak sayu tak beranjak

dalam kesendirian yang semakin memekat

dibuai hanyut heningan tak ber-asa

Hati ini bimbang

tenggelam usapan iblis membingungkan

seolah semua tiada kepastian

terkungkung kerasnya jiwa yang mengambang

hingga suatu saat makhluk surga itu hadir

harum semerbak menebarkan aroma na’im dan ma’wa

mengalir membasahi rongga rongga yang gersang

runtuhkan tembok kecongkakan dari hati yang membesi

dia bernama berlin

kehadirannya membumikan impian nan islami

mendekatkan jiwa pada cahaya fitrah

Hanya kepada
Allah diri kan berserah….

by pamukti

☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺☻☺

Berlin (02)

( Menyentuh
Berlin yang tak tersentuh )

Sekali lagi
dalam hidup yang fana ini

Jiwa yang kecil dan lemah kembali merintih

Dengan tangan tangan kecilnya dia mencoba menguatkan diri

Mengais serpihan keyakinan dan menyusunnya kembali

Takdirnya kini harus memilih lagi

Berlin bagaikan cahaya hati yang telah lama hilang

Kilaunya mengkristal di setiap sanubari

Laksana kilauan jamrud nan agung kehijauan

Tapi berlin tetaplah berlin

Dia tinggal di atas awan

Tak tersentuh walau seluruh dunia ingin menyentuh

Berlin adalah racun terhadap sesuatu yang belum ada haknya

Sekaligus tetesan air surga bagi jiwa yang memilikinya

Akankah diri ini akan menyingkirkan hijab keyakinan

Berusaha menggapainya yang diatas awan ?

Ah tidak..tidak…

Berlin adalah cahaya dunia

Dia akan menghampiriku meski aku bersembunyi dibawah naungan keyakinanku

Pasti!

Aku yakin itu


by pamukti