Tidak bisa meninggalkan apa-apa, hanya bisa menorehkan pena. Ini adalah pena yang bisa bercerita bahwa tiap hari ada udara yg keluar masuk dan berganti tapi tak pernah disadari, bahwa tiap hari ada matahari dan bulan yang berganti tapi tak pernah dihayati, dan bahwa tiap hari ada berbagai kejadian kecil dan tak lucu lalu kita anggap angin lalu. Edi Sud-Rahmat Kartolo…Maksud Lo?!?!. Maksud aku ini hanya catatan harian yang biasa kutaruh di saku.
Habit ini menyeruak lagi seperti bangkai
Membusuk dan tak terobati
Aku sudah bosan kembali ke zaman ini
Dipenuhi aroma kebusukan duniawi dan kemunafikan
Aku merasa bukan diriku sendiri
Kembali terseret ke jurang yang terpuruk
Hanya untuk mendaki gunung emas di atas kaki
Aku bahkan tak yakin dengan semua ini
Aku bahkan masih menganggap ini semua adalah ilusi banci
Orang-orang terpentingku enggan mengerti
Semuanya mendorong diriku pelan…pelan
Hingga separuh kaki ini tlah terperosok
Ke padang gersang yang mengering
Kedalam dunia penuh ilusi
Dunia dimana hijau bukanlah hijau
Dunia dimana hitam adalah putih
Dan putih adalah hitam
Jiwa ini gemetar karena mereka
Tapi aku adalah laki laki dewasa
Yang punya kepala, tangan, dan kaki sendiri
Dan aku punya tubuh yang kelak akan berdiri sendiri
Dengan tangan yang tidak akan bisa menunjuk selain ke diri sendiri
Saat semua langkah, pikiran, dan seluruh habit ku akan di pertanyakan
Maka tidak ada kata lagi
Aku kan berdiri membela diri sendiri