Tidak bisa meninggalkan apa-apa, hanya bisa menorehkan pena. Ini adalah pena yang bisa bercerita bahwa tiap hari ada udara yg keluar masuk dan berganti tapi tak pernah disadari, bahwa tiap hari ada matahari dan bulan yang berganti tapi tak pernah dihayati, dan bahwa tiap hari ada berbagai kejadian kecil dan tak lucu lalu kita anggap angin lalu. Edi Sud-Rahmat Kartolo…Maksud Lo?!?!. Maksud aku ini hanya catatan harian yang biasa kutaruh di saku.
republika.co.id
Dunia modern boleh jadi hanya mengenal Louis Braille (1809-1852) sebagai satu-satunya penemu sistem penulisan bagi kalangan tunanetra. Padahal, 600 tahun sebelum Braille, peradaban Islam telah memelopori lahirnya sistem tulisan bagi kaum tunanetra. Sayangnya, terobosan penting yang diciptakan ilmuwan Muslim di abad ke-13 M itu seakan lenyap ditelan zaman.
Adalah profesor Muslim bernama Ali Ibnu Ahmed Ibnu Yusuf Ibnu Al-Khizr Al-Amidi yang telah merintis penciptaaan sistem penulisan bagi orang buta itu. Sejak terlahir ke dunia, Al-Amidi sudah dalam kondisi buta. Keterbatasan penglihatan itu tak menyurutkan semangatnya untuk belajar dan terus menggali ilmu. Ilmuwan asal Suriah itu pun termasyhur sebagai ahli hukum dan pakar bahasa asing.
Untuk menggali ilmu dan pengetahuan, Al-Amidi berhasil menciptakan sebuah sistem penulisan untuk kaum difabel. Dengan sistem penulisan yang diciptakannya, ilmuwan yang wafat pada 1314 M itu mampu membaca dan menulis buku. Penyandang tunanetra memang dikenal memiliki kemampuan meraba yang sangat luar biasa.
Berkah itu mampu dimanfaatkan Al-Amidi untuk menggali ilmu. Dengan kemampuan meraba dan menyentuh itu, dia tak hanya mampu menempatkan dan menyimpan buku pada rak, tetapi Al-Amidi juga mampu menentukan nomor halaman sebuah buku. Selain itu, ia juga mampu mengetahui nilai buku dengan menetapkan jarak baris buku.
Sayangnya, jasa dan dedikasi Al-Amidi dalam menciptakan sistem penulisan untuk kaum difabel itu seperti hilang ditelan zaman. Sejarah juga seakan melupakan kontribusi tak ternilai yang telah diberikan ilmuwan Muslim itu. Tak hanya adikaryanya yang terkubur zaman, sosok Al-Amidi juga nyaris tak pernah disebut-sebut dalam sejarah peradaban Islam.
Sungguh ironis memang. Bahkan dalam hampir seluruh buku sejarah, pun jejaknya sangat sulit untuk ditemukan. Tak heran jika warga dunia hanya mengenal Braille yang berkebangsaan Prancis sebagai penemu huruf Braille. Pada 1824, Braille menciptakan sejenis sistem tulisan sentuh yang khusus digunakan para penyandang tunanetra.
Kesadaran untuk menghidupkan kembali sejarah hidup dan kontribusi Al-Amidi mulai muncul di Arab Saudi pada 1975 serta 1981 dan di Mesir pada 1961. Sejak tanggal 31 Maret 1975 dirayakan sebagai hari tunanetra dan pada 1981 dideklarasikan sebagai tahun internasional orang-orang cacat.
Tak jelas apa yang menyebabkan para sejarawan Muslim tak mencatat keberhasilan Al-Amidi yang begitu fenomenal. Boleh jadi, sistem tulisan yang dikembangkan Al-Amidi untuk kaum tunanetra serta tulisan tentang sejarah hidupnya musnah dalam huru-hara yang melanda wilayah Irak. Apalagi, Al-Amidi menetap di wilayah itu.
Pada 9 Juli 1401 M, Kota Baghdad dan wilayah Irak lainnya dihancurkan oleh pasukan Timur Lenk–penguasa Dinasti Timurid yang berpusat di Asia Tengah. Selain menghancurkan bangunan serta gedung-gedung penting, aksi invansi Timur Lenk yang masih keturunan Hulagu Khan itu juga menimbulkan korban jiwa belasan ribu jiwa.
Serangan Timur Lenk ke Baghdad merupakan invansi kedua yang dilakukan bangsa Mongol. Sebelumnya, pada 1258 M, Baghdad diluluhlantakan tentara Mongol pimpinan Hulagu Khan. Bait Al-Hikmah yang menyimpan jutaan judul buku dibakar. Bahkan, sungai-sungai pun berubah warnanya menjadi hitam, akibat tinta yang meleleh dari buku yang dibuang ke sungai.
Peradaban Islam modern tentunya memiliki tugas penting untuk melacak jejak karya dan sejarah hidup Al-Amidi. Bisa jadi pula, risalah tentang sejarah Al-Amidi digondol peradaban Eropa ketika menjajah negara-negara Muslim di Timur Tengah. Pun Sangat mungkin, berkat karya Al-Amidi-lah Braille terinspirasi untuk menciptakan tulisan bagi tunanetra.
Ulama dan Ilmuwan Muslim Tunanetra
Selain Al-Amidi, peradaban Islam di era keemasan juga mencatat kiprah sederet ilmuwan dan ulama Muslim yang menyandang tunanetra. Ada yang sejak lahir mengalami kebutaan dan ada pula yang mengalami kebutaan pada usia tua. Bahkan, ada pula yang ketika lahir tunanetra, namun penglihatannya bisa kembali normal, seperti Imam Bukhari. Berikut ini adalah beberapa ulama dan ilmuwan Muslim yang tunanetra:
Abdullah Ibnu Ummu Maktum
Abdullah adalah sahabat Rasulullah SAW yang menyandang tunanetra. Namun, keterbatasan penglihatan tak menyurutkan daya juangnya untuk membela dan menyebarkan agama Allah SWT. Sejarah peradaban Islam mencatat, Abdullah sempat memainkan peranan penting dalam komunitas Muslim pada zamannya.
Tak hanya sekadar sahabat bagi Rasulullah SAW, Abdullah adalah keponakan Siti Khadijah–istri pertama Nabi Muhammad SAW. Ayahnya bernama Qays ibnu Za’id dan ibunya Atikah binti Abdullah. Atikah dijuluki Ummu Maktum karena dia melahirkan seorang anak yang buta bernama Abdullah.
Abdullah merupakan salah seorang sahabat yang terbilang paling awal menerima kebenaran ajaran Islam. Dia pun menyaksikan bagaimana Islam berkembang pesat di Makkah dan Madinah. Meski pada awalnya mendapat tekanan dan siksaan dari kaum Quraisy, Abdullah yang tunanetra tetap memegang keyakinannya sebagai seorang Muslim.
Ia juga tetap berada di belakang Rasulullah SAW untuk membela agama Allah SWT. Salah satu kelebihan yang dimilikinya adalah daya ingat yang luar biasa. Tak heran, jika Abdullah menjadi salah seorang sahabat yang bertugas untuk menghapal Alquran.
‘Abdur-Razzaq bin Humam
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar ‘Abdur-Razzaq bin Humam bin Nafi’ Al-Himyari. Dia adalah seorang ulama yang memiliki pengetahuan yang luar biasa. Ia juga merupakan seorang ahli hadis. Dari Abdu-Razzaq-lah, imam Ahmad, Ishak, Ibnu Ma’in, dan Adh-Dhuhli mendengar langsung hadis. Pada awalnya, penglihatan Abdur-Razzaq normal. Namun, memasuki usia tua, dia mengalami kebutaan. Meski begitu, dia tetap dikenal sebagai ahli hadis yang memiliki hapalan yang tajam. Ia meninggal pada 211 H pada usia 85 tahun.
Abu ‘Iesa Muhammad bin ‘Iesa bin Sura At-Tirmidzi
Ia dikenal sebagai ahli hadis yang termasyhur. Terlahir di Tirmiz, Uzbekistan, pada 209 H, murid Imam Bukhari ini dikenal dengan panggilan At-Tirmidzi. Salah satu kontribusinya bagi pengembangan agama Islam adalah kitab Al-Jami– menghimpun 4.000 hadis Nabi Muhammad SAW. Kitab yang ditulisnya itu juga populer dengan julukan, Sunan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi juga berjasa dalam mengembangkan metodelogi hadis yang disusunnya dalam buku bertajuk, Al-’Ilal. Sang ahli hadis pun mengalami kebutaan. Ia tutup usia pada 13 Rajab 279 H. heri ruslan
by Nadirsyah Hosen
Pada mulanya adalah sebuah kekaguman. Seorang wanita jelita nan kaya raya
terpesona akan keindahan Yusuf alaihis salam yang ramai dibicarakan orang.
Rasa kagum tersebut membawanya menemui sang pujaan. Mata menjadi silau dan
bibir pun menjadi kelu; sorot mata sang pujaan menghujam kalbu
sehingga kata-kata tak mampu melukiskan sebuah ketakjuban.
Bazigha, demikian nama wanita tersebut, jatuh pingsan dibuai pesona dan
keindahan Yusuf. Lepas dari puncak keterpesonaannya, Bazigha bangun dan
berlutut seraya memuja ketampanan dan keindahan Yusuf.
Yusuf melangkah mendekati Bazigha. Diringi senyumnya yang menawan Yusuf
menasehati Bazigha, “Ketika matamu melihat keindahan dunia ini,
sesungguhnya itu adalah sepercik tanda (ayat) tentang Dia. Makhluk yang
indah hanyalah sekuntum bunga nan mekar di sebuah taman Allah yang luas
tak bertepi. Jika matamu mampu melihat dibalik kesempurnaan itu, tentulah
engkau akan melihat bahwa kuntum bunga itu tak lain hanyalah cermin yang
memantulkan gambaran wajah-Nya.”
“Begitulah Bazigha,” Yusuf melanjutkan kalimatnya yang menghentak
kesadaran sang jelita, “penampilanku pada hakekatnya adalah bagaikan
kuntum bunga itu; pantulan wajah ilahi. Namun engkau mesti menyadari bahwa
gambar akan memudar, kuntum bunga akan beranjak layu dan pantulan
cermin pun akan tertutup oleh Cahaya ilahi. Hanya Allah sajalah yang
hakiki dan abadi.”
“Untuk itu, duhai Bazigha…mengapa engkau buang waktumu untuk mengagumi
sesuatu yang akan lenyap dan pudar. Pergilah langsung ke sang Sumber tanpa
menunda-nunda lagi.”
Bazigha terperangah. Boleh jadi dia terkejut mendapati bahwa sosok nan
sempurna dihadapannya ternyata tidaklah hakiki; hanya sekuntum bunga yang
akan layu dan pantulan cahaya yang tertutup oleh kebesaran Maha Cahaya;
Cahaya di atas cahaya (nur ‘ala nur). Keterpesonaannya ternyata baru pada
level “asesoris”; belum “substantif”.
Boleh jadi kita seperti Bazigha. Kita terpesona pada hal-hal yang tidak
hakiki. Lihatlah diri kita…betapa kita terpesona akan gelar akademik
yang kita miliki, harta dan anak yang menemani kita, isteri cantik yang
melayani kita bahkan sandang, pangan dan papan yang menjadi incaran kita.
Seperti Yusuf yang menasehati Bazigha, mengapa kita tidak langsung
berjalan menuju sumber segala pesona. Mengapa kita habiskan
waktu kita hanya untuk mengejar kenikmatan kuntum bunga yang akan layu.
Lepaskan ego diri kita, buang rasa takjub kita, dan berjalanlah
menuju-Nya.
Boleh jadi di ujung perjalanan nanti, kita akan terkejut melihat
keindahan-Nya yang hakiki nan abadi. Pada mulanya adalah kekaguman; dan
pada akhirnya adalah: Subhanallah! Maha Suci Allah!